Sebuah kisah nyata yang merupakan jalan hidupku yang sudah ditentukan oleh Tuhan, agak berliku dan membingungkan akan tetapi berakhir dengan sebuah kebahagiaan yang tak pernah aku duga sebelumnya.
Aku adalah seorang mahasiswi di sebuah kampus ternama di Indonesia, saat itu aku mulai masuk semester akhir dan bersiap untuk mengerjakan Tugas Akhir sebagai syarat kelulusanku. Saat itu aku sedang berpacaran dengan seorang pria yang sangat aku cintai, akan tetapi nampaknya pacarku hanya membohongiku karena dia tidak mencintaiku, dia sering selingkuh dengan wanita lain, yang kadang dipergoki sahabatku. Sebagai seorang sahabat yang baik, dia selalu memberitahukan tentang kelakuan buruk pacarku, akan tetapi karena cinta butaku kepada pacarku tersebut membuat aku malah menuduh sahabatku telah melakukan fitnah, aku tetap mempercayai pacarku dan memilih memusuhi sahabat yang aku anggap tukang fitnah tersebut, akhirnya aku semakin jauh dengan sahabatku.
Hingga akhirnya aku benar-benar memergoki sendir jika pacarku memang sedang berselingkuh dengan wanita lain, rasanya hatiku hancur berkeping-keping saat itu, aku merasa dibohongi, kepercayaan yang aku berikan disia-siakan pacarku, aku juga merasa menyesal karena tidak mempercayai sahabatku dulu. Pada waktu itu kehidupanku hancur, aku gagal dalam perkuliahan, aku tidak bisa mengikuti Tugas akhir karena aku terlalu sibuk menyesali kisah percintaanku tersebut. Tapi ternyata aku memang memiliki sahabat yang baik, mereka tidak pernah meninggalkanku sendiri, mereka selalu menghiburku saat itu, membantuku untuk menyelesaikan Tugas Akhir yang tertunda.
Sambil menata kehidupanku kembali, aku juga berusaha melupakan pacarku yang dulu menyakitiku hingga satang seorang pria yang tidak lain adalah tetanggaku sendiri, dia adalah seorang tentara yang jarang pulang ke rumahnya karena hrus bertugas di berbagai wilayah NKRI. Entah ada angin apa saat itu dia menghubungiku dan tiba-tiba mengungkapkan perasaannya kepadaku, aku kaget karena keberaniannya tersebut, tetapi dengan trauma yang masih aku rasakan akibat kelakuan pacarku dulu aku menolaknya dan berkata bahwa aku ingin langsung dilamar tanpa pacaran. Besoknya dia datang ke rumahku membawa sebuah cincin, ternyata dia melamarku saat itu, sontak aku kaget dan bingung harus melakukan apa, aku terdiam tanpa jawaban, hingga kuputuskan untuk menerima lamarannya tersebut. Akhirnya acara resmi lamaran tersebut dilakukan besoknya, dan saat itu aku sungguh merasa bahagia, ditambah dengan kelulusanku setelah selesai dalam sidang TA di kampusku.
Pengalaman hidupku memang benar-benar berwarna, tak salah jika ada pepatah habis gelap terbitlah terang, atau firman Allah yang berbunyi didalam kesulitan ada kemuadahan. Setelah lamaran tersebut akhirnya dia menceritakan perjuangannya menantiku, mendo'akanku setiap saat, dan berharap agar aku menjadi pasangannya, ternyata dahulu ayahnya sebelum meninggal sudah memberi pesan kepadanya agar menikah denganku, akan tetapi karena aku sedang berpacaran dengan orang lain maka dia lebih memilih untuk diam dan menantiku, menunggu kesempatan yang tepat dan kini kami sudah bersama menanti saat pernikahan kami. Rasanya aku bahagia dengannya, pria yang mencintaiku dan mau berkorban menantiku, terimakasih juga ku ucapkan kepada sahabatku yang mau mengerti keadaanku dan tidak meninggalkanku dalam keterpurukanku saat itu, tentunya rasa syukur kepada Allah yang memberikan jalan terbaik dengan pasangan terbaik pilihan yang telah Dia siapkan untukku. Hidup ini indah...
