Aku adalah seorang wanita yang sudah memiliki suami dan seorang anak perempuan berumur 5 tahun, kehidupan keluargaku berjalan dengan sederhana dimana suamiku yang rajin bekerja bisa dibilang mampu untuk menopang kebutuhan hidup kami sekeluarga. Kami tinggal di rumah kami sendiri, rumah yang sederhana tempat kami menjalani hari-hari.
Kisah ini dimulai saat aku mulai mengenal dunia yang belum aku rasakan dahulu sebelum menikah, aku bergaul dengan teman-teman yang bebas dalam pergaulan. Aku merasa tergoda untuk mencoba kehidupan mereka yang terlihat selalu ceria dan memiliki banyak teman, hidup mereka terlihat sangat bahagia dengan kehidupan yang bebas. Aku memberanikan diri untuk mengikuti kehidupan mereka, aku mulai bergaul dengan mereka, minuman keras adalah hal yang lumrah saat bersama mereka, tidur satu kamar dengan pria lain adalah hal yang biasa. Hingga aku mulai melupakan keluargaku saat itu karena sibuk bergaul dengan teman-teman baruku, anakku sering kutitipkan kepada tetangga atau saudaraku jika aku sedang pergi dengan teman-temanku. Sementara aku selalu pulang sebelum suamiku pulang kerja, sehingga suamiku tidak curiga.
Benar memang jika ada pepatah yang mengatakan sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga, saat aku mulai selingkuh dengan temanku, aku mulai tidak bisa mengontrol waktu, kadang karena jalan-jalan dengan selingkuanku tersebut aku terlambat pulang dan ternyata suamiku sudah di rumah sedang memandikan anakku, rasa curiga mulai terlihat dari tatapan dan kelakuan suamiku tersebut, hingga akhirnya terjadi sebuah peristiwa yang membuat kehidupanku hancur, saat aku pulang dengan selingkuhanku sekitar jam 1 malam, aku sudah ditunggu oleh suami, anak, dan saudar-saudarku, mereka sudah menunggu di rumahku dari sore hari. Awalnya mereka khawatir kenapa aku belum pulang ketika malam tersebut, akan tetapi karena aku kepergok bersama selingkuhanku maka saat itu juga aku dihakimi oleh mereka, aku diceraikan oleh suamiku dan anakku dibawa oleh suamiku, keluargaku juga tidak ada yang membelaku, mereka malu dengan kelakuanku.
Kini aku sebatang kara, kehilangan orang-orang yang benar-benar menyayangiku dan memilih jalan hitam yang sangat buruk, aku kehilangan semuanya dan kini aku harus menghadapi semua penyesalanku tersebut. Aku memilih untuk meninggalkan kampung halamanku agar rasa malu ini tidak selalui menghantuiku, akan tetapi rasa rindu kepada keluarga dan saudaraku kadang selalu datang, tepi keadaan seperti tidak menerimaku untuk kembali.
Sungguh pelajaran hidup ini adalah sesuatu yang sangat terasa bagiku, aku menderita karena kelakuanku sendiri, kehidupanku hancur lebur karena perselingkuhanku, aku menyesal.
