Sewaktu masih dalam masa perkuliahan, saya pernah diajar oleh seorang dosen perempuan yang sepertinya sudah berumur diatas 30 tahun. Beliau adalah orang yang cukup tempramen dan sering marah saat ada sedikit kata-kata buruk dari mahasiswanya.
Beberapa lama bertemu di kelas dengan dosen ini, aku pikir dia adalah seorang wanita yang cukup cantik, dan saat itu aku pikir dia adalah seorang ibu atau istri, tapi sebelum dia membuat pengakuan yang cukup mengejutkan. Saat sedang senggang dalam mata kuliah yang dia ajarkan, tiba-tiba saja beliau berkisah bahwa dirinya masih single dan belum menemukan jodoh, dan meminta kami untuk mendo'akannya agar segera mendapatkan jodoh, tentu saja dia mengucapkannya dengan sedih dan sembari meminta maaf jika selama mengajar sering membuat kesal para mahasiswa, saat itu kami juga ikut sedih mendengarnya.
Selang beberapa waktu saya sedikti kepo dengan keadaan dosen tersebut, hingg salah satu mahasiswa yang memang sudah agak sedikit tua dan memang sudah berkeluarga menanyakan keadaan yang dialami dosen tersebut, dan ternyata dosen tersebut susah mendapatkan jodoh dikarenakan status pendidikannya yang dia adalah seorang sarjana S2, karena status tersebut terkadang membuat para laki-laki yang memiliki status dibawahnya merasa minder dan tidak berani melamarnya. Hal tersebut memang menyakitkan bagi sang dosen, dengan umur yang semakin bertambah tentu itu adalah sebuah beban bagi kehidupannya.
Saya memiliki kesempatan singgah ke rumah dosen tersebut saat harus mengumpulkan tugas darinya, saat masuk ke rumahnya saya pikir wajar saja dan tidak ada yang aneh atau terlalu wah dengan keadaan dosen tersebut, jadi memang benar apa kata sang dosen jika status S2 yang membuatnya agak sulit mendapatkan jodoh. Ditambah kata-kata menyakitkan dari orang lain yang sering menghinanya, saya juga merasa kasihan kepadanya saat itu.
Saat sedang mengerjakan Tugas Akhir untuk syarat kelulusan saya, saya memang sudah diajar oleh dosen tersebut, akan tetapi saya masih ingat dengannya. Saya lewat di depan rumahnya dan ternyata dia sedang mengadakan pesta pernikahan, saat itu saya sebagai seorang mahasiswa yang pernah diberikan ilmu berharga darinya juga ikut senang melihatnya, akhirnya penantian selama bertahun-tahun selesai sudah dan beliau mendapatkan seorang suami yang tidak takut dengan ijazah S2-nya.
Dari kisah diatas kita bisa melihat bahwa status, harta, dan keadaan fisik seseorang tidaklah cukup untuk dijadikan jaminan mendapatkan jodoh, semua itu bukanlah kepastian karena kepastian datangnya dari Tuhan dan itu adalah sebuah takdir.
